Stockholm Syndrome Dalam Romansa

Seusai jam kerja, Mely selalu membelikan makan malam untuk pacarnya, Dodi, yang telah menunggunya di kosan. Hal ini hampir setiap hari dilakukannya, kecuali bila ternyata Mely harus lembur di kantor atau bila kebetulan dia bisa pulang cepat untuk memasak. Malam ini, Mely membelikan ayam gulai di rumah makan Padang kesukaan Dodi.

“Say, ini nasi Padangnya.. buruan makan loh sebelum dingin,” kata Mely setiba di kosan, sambil membukakan bungkusan nasi tersebut dan menaruhnya pada sebuah piring bersih. Tidak lupa juga dia menyediakan sendok garpu untuk Dodi yang sedang sibuk browsing internet. Ditaruhnya makanan tersebut di samping laptop.

“Aku mandi dulu yah..”, Mely memberi tahu. Dodi tetap diam, hanya tangannya yang maju mengambil sekeping kerupuk udang dari atas piring sambil matanya terus fokus pada layar monitor. Sibuk klik ini dan itu.

Keluar dari kamar mandi mengenakan kaos dan celana pendek dengan handuk tergantung di lehernya, Mely kaget melihat Dodi sedang memegang Blackberry miliknya dan memeriksa isinya. Meskipun sering kali Dodi melakukan hal itu, namun selalu ada rasa was-was di hati Mely.

“Siapa Rico?”, tanya Dodi tajam sambil memperlihatkan layar Blackberry Messenger yang penuh dengan chat antara Mely dengan seorang pria bernama Rico.

Deg! Hati Mely berdegup kencang…

Rico adalah supervisornya di kantor dan sepertinya Rico sangat tertarik pada dirinya, tapi Mely sama sekali tidak punya perasaan apapun selain sebagai kolega saja. Isi chat-nya pun hanya obrolan biasa saja.

Tapi Rico bukanlah masalah. Yang jadi masalah adalah Dodi…

Melihat ekspresi Mely yang kaget, Dodi langsung naik pitam. Serta merta ia bangkit berdiri, membentak keras dan mulai marah-marah. Menuduh Mely selingkuh dan tidak setia. Menuduh Mely sudah bosan dengannya. Mely berusaha menjelaskan dan memohon supaya Dodi jangan marah, tapi Dodi tidak bisa diberi penjelasan. Mely juga sudah tahu hal ini. Setiap kali ia marah, urusan pasti jadi panjang.

Melihat Mely yang panik, Dodi semakin menjadi-jadi. Ia mendorong Mely dengan kasar dan mencaci-maki dengan kata-kata kotor yang tidak pantas diucapkan oleh siapapun. Mulai dari nama-nama binatang, hingga pelacur dan perek murahan.

Setiap kali pertengkaran mencapai titik ini, Mely hanya bisa meringkuk dan menangis di lantai. Belum puas dengan itu semua, Dodi menepis piring berisi nasi Padang yang dibelikan Mely untuknya. Pecahan piring dan nasi Padang berserakan di lantai.

“Kalo lo emang dah bosen sama gue, bilang aja.. jangan pake maen di belakang! Dasar perek!”, Dodi membentak sekali lagi sambil melempar Blackberry Mely ke lantai yang langsung tercerai berai. Ia pergi meninggalkan Mely yang tersedu-sedu pilu.

Hatinya hancur berantakan seperti serpihan piring beling yang berserakan di lantai..

Keesokan harinya, sepulang jam kerja Dodi sudah menunggu di depan kantor Mely. Ia datang untuk menjemput. Dodi memohon, mengemis, dan menangis, agar Mely mau memaafkannya. Dodi sangat menyesal atas perlakuannya pada Mely. Ia berjanji takkan pernah mengulangi lagi.

“Aku cinta kamu.. aku butuh kamu. Kalau kamu gak mau maafin aku, lebih baik aku bunuh diri..”, Dodi memelas sambil berurai air mata. Dan seperti biasa, Mely pun memaafkannya. Mereka pulang bersama ke kosan Mely.

Kejadian seperti ini sudah sering kali terjadi dalam hubungan Mely dan Dodi. Mereka telah menjalin hubungan lebih dari setahun. Awalnya Dodi sangat baik, lucu, dan menyenangkan. Tapi lama kelamaan, Dodi menjadi semakin posesif. Ia memegang semua akses password email, Facebook, dan YM kepunyaan Mely. Belum lagi kebiasaannya mengecek handphone Mely.

Dodi semakin lama semakin gampang kehilangan kesabaran dan cemburu buta. Pernah satu kali Dodi marah besar dan menampar Mely karena menerima telpon dari seorang teman pria.

Tapi Mely tidak bisa meninggalkannya. Karena Dodi membutuhkannya. Ia tidak bisa hidup tanpa Mely. Semakin Mely merasa bahwa dia tidak bisa meninggalkan Dodi, semakin dia merasa yakin bahwa dia sangat mencintai Dodi.

Sebuah siklus yang mengerikan…

Di atas adalah contoh kasus dari sebuah fenomena yang disebut dengan Stockholm Syndrome. Kasusnya mungkin berbeda, tapi saya yakin Anda pernah mendengar kisa serupa dari sahabat Anda, gebetan Anda, atau mungkin Anda sendiri pernah mengalaminya. Tidak selalu wanita yang menjadi korban, ada begitu banyak pria juga yang berada dalam posisi seperti Mely.

Stockholm Syndrome adalah sebuah fenomena psikologis paradoks di mana seorang tawanan/sandera menunjukkan perasaan sayang dan keterikatan emosional pada orang yang menawan dan menganiayanya, biasanya disebabkan karena rasa ketidak berdayaan atas situasi yang dirasakan oleh sang korban.

Istilah Stockholm Syndrome mengacu pada sebuah peristiwa yang terjadi pada tahun 1973 di Stockholm, Swedia. Pada waktu itu, sekelompok perampok bank menyandera para pegawai bank selama 5 hari penuh. Selama 5 hari tersebut, para sandera jadi memiliki ikatan emosional dengan para penyadera mereka. Ketika para tawanan ini akhirnya dibebaskan, mereka bahkan membela para kriminal yang telah menyiksa mereka.

Fenomena psikologis ini dapat ditemukan juga dalam hubungan sosial seperti: keluarga, percintaan, persahabatan, ataupun hubungan antar individu lainnya. Dan dewasa ini, sudah sangat umum terjadi di sekitar kita.

Begitu banyak pasangan yang saya kenal langsung maupun tidak langsung, terikat belenggu Stockholm Syndrome dalam hubungannya. Ini adalah sebuah keadaan yang sangat mengerikan dan menyedihkan. Bukan saja siklus tersebut akan menghancurkan dan merusak diri kedua belah pihak, tapi juga bisa melukai orang lain di sekitar mereka.

Pembentukan Stockholm Syndrome bisa dilihat dari beberapa penyebab:

  • Adanya sebuah ancaman dan kekerasan. Tidak selalu kekerasan fisik, bisa juga penyiksaan mental, maupun emosional lewat kata-kata verbal. Biasanya sang penganiaya menjatuhkan rasa percaya diri korban dengan makian dan hinaan. Terkadang melibatkan hidup dan matinya seseorang. Seperti Dodi yang mengancam ingin bunuh diri.
  • Isolasi dan blokir secara fisik, mental, maupun emosional. Alienasi dapat dilihat dari pasangan yang sangat posesif sehingga korban tidak boleh berteman dengan orang lain sama sekali, dan semua akses informasi dipegang oleh sang penganiaya (email, facebook, YM, handphone, dsb).
  • Adanya sebentuk kebaikan dan kasih sayang yang ditunjukkan sesekali oleh sang penganiaya. Karena telah terbiasa dengan penyiksaan dan rasa sakit, sang korban jadi kecanduan dan menunggu-nunggu kapan kebaikan tersebut akan muncul. Kebaikan sang penganiaya menjadi sebuah hal yang sangat berharga baginya.
  • Sang korban menganggap diri tidak berdaya dan merasa tidak mungkin bisa keluar dari keadaan ini. Akibatnya dia jadi menutup diri dan pasrah dengan keadaan. Tidak pernah berani untuk mengambil keputusan tegas dan hanya berharap sebuah keajaiban yang akan merubah keadaan.

Akibat tidak bisa bercerita pada siapapun, karena malu, dan akses sosial yang dibatasi, maka sang korban jadi menutup diri dari orang lain. Malahan dia akan menentang orang-orang yang mencoba menolongnya keluar dari keadaan ini. Dia merasa tidak ada orang yang bisa mengerti keadaan dan perasaannya.

Ini akan berakibat fatal. Karena lambat laun, sang korban akan menerima keadaan ini sebagai kenyataan hidupnya dan merasa bahwa hanya sang penganiaya lah yang mengenal dan mengerti dirinya. Dan itu yang menciptakan ketergantungan emosional yang dalam. Sang korban menganggap hal ini adalah cinta.

Ketika hubungan sudah terjalin lama, akan makin sulit untuk melepaskan diri. Investasi emosi, tenaga, dan finansial, membuat sang korban tidak ingin meninggalkan hubungan ini. Dia harus bertahan hingga akhir. Semua demi nama cinta.

Sepanjang pengalaman saya, sangat sulit untuk menyadarkan dan menolong orang yang telah terjebak dalam siklus mengerikan ini. Korban biasanya berhasil melepaskan diri dari cengkraman Stockholm Syndrome ketika penganiayaan telah melewati ambang batas tertentu dan mengancam kelangsungan hidupnya, menyadarkan mereka akan realita hubungan yang destruktif ini.

Mereka berhasil lepas dengan membawa luka dan trauma yang membekas begitu dalam di jiwanya. Membuat mereka menjadi paranoid, penuh ketakutan, dan ketidak stabilan emosional. Sulit bagi mereka untuk bisa kembali merasakan kebahagiaan layaknya manusia normal. Kalau sudah begini, mereka akhirnya jadi cenderung melukai orang-orang yang mencintai mereka dengan tulus.

Stockholm Syndrome adalah sebuah realita yang banyak terjadi di dunia sekitar kita. Sayangnya, banyak orang melihat ini hanyalah konflik pacaran biasa. Tidak banyak yang mengerti betapa hal ini sangat merusak setiap individu yang terlibat di dalamnya. Saatnya kita membuka mata dan memikirkan kembali tentang hal ini.

Apa yang bisa kita lakukan?

Sahabat Anda,

Kei Savourie

NOTE: Entri ini sudah saya post beberapa minggu yang lalu dan sudah menerima cukup banyak komentar, namun karena terjadi eror pada server hosting maka semua post sesudah tanggal 5 Desember 2010 hilang tak berbekas. Bila Anda berkenan, mohon tuliskan kembali komentar Anda. Terima kasih.

*Semua cerita di blog ini adalah kisah nyata, tapi semua nama disamarkan untuk melindungi privasi orang-orang yang bersangkutan.

70 Comments

  1. Kayaknya saya salah satu korban dari stockholm syndrome ini, bukan pacar tapi kakak

    Kakak saya (cowok) sejak sma selalu ngelarang saya pacaran. Dia ngancem bakal ngehajar setiap cowok yang deketin saya dan udah pernah kejadian. Setiap ketemu, dia selalu ngecek hp saya dan kalau ada sms dari cowok (walaupun cuma temen) dia pasti interogasi saya kayak di kantor polisi.
    Dia juga ngancem bakal mukul saya si tempat umum kalau ketahuan jalan sama cowok. saya jadi takut dan ngerasa risih karena setiap kali ketemu pasti diinterogasi terus, terpaksa saya ikutin kemauannya untuk tidak pacaran.

    Hasilnya saya selalu menghindar setiap ada cowok yang deketin saya, temen cowok saya juga dikit banget. Saya merasa terkekang dan tidak bebas, hidup saya terasa monoton banget.
    Saya udah bosen dan muak dengan kondisi ini.
    Saya ingin bebas dari kondisi ini, saya ingin punya banyak temen dan jalan sama siapa aja tanpa terbebani ancaman-ancaman kakak saya, dan saya pengen banget punya pacar.
    apa yang harus saya lakuin?

    Like

    Reply

  2. Setlh saya membaca saya sadar apa yg pernh mnjd bagiandr dodi dan saya merasa sangat menyesal dgn apa yg di perbuat??
    Tp saya sekarang merasa bgmn cra memiliki dgn baik dan tulus🙂

    Like

    Reply

  3. Tulisan ini cocok banget buat teman eks kantor gue dulu yang udah gue anggap sebagai kakak perempuan gue. dia habis-habisan diludahi, dibilang perek, dan dicurigai tidak setia oleh pacarnya.

    Gue sempet menyuruh dia untuk putus dan ninggalin cowoknya dan mencari yang lebih baik. tapi dia menolak dengan alasan usia. bila dia memutuskan cowoknya maka dengan usia diatas kepala tiga maka akan sulit dan membutuhkan waktu yang lebih lama untuk mencari kekasih lain.

    Like

    Reply

  4. saya pernah ada d posisi dodi. dan akhrnya hubungan saya kandas. saya menyesal sampai detik ini. terus memikirkan ksalahan2 saya padanya dan kebaikanya pada saya. sbnrnya penyebabnya adalah takut kehilangan dan rasa MEMILIKI yg tinggi. skrg saya sadar itu salah.sangat salah.skrg saya punya pcr baru,dan saya beri kbebasan yg slayaknya ia dptkan n tdk prnh mrh2 gaje lg.tp dlm lubuk hati saya msh ada rasa nyesal pd mantan n ingin skali memperbaiki

    Like

    Reply

  5. setelah membacanya saya tersadar bahwa syndrom ini gak cuma untuk orang pacaran. Dan pengalaman saya adalah syndrom ini ada pada hubungan antara anak dan orang tua. Di mana sang anak selalu mengancam orang tuanya bahwa dirinya akan bunuh diri apabila tidak dimuluskan permintaannya. Padahal si anak sudah berkeluarga. Demikian juga dia perlakukan hal ini kepada saudarinya yang juga sudah berkeluarga. Jelas jelas disini si anak yang suka memaksa mempunyai kekurangan yang sangat banyak ( nol besar ) tapi dia sanggup “menganiaya” saudari dan keluarganya.
    Jadi orang dengan type seperti ini ternyata kalau kita simak benar benar adalah mempunyai kemampuan yang nol besar tapi dia menutupinya dengan segala ancaman yang berdalihkan cinta, kasih sayang, keluarga, pacar dan bla – bla – bla.
    Ternyata kalau kita menegaskan / tegas kepada mereka, ternyata mereka akan berubah secara perlahan lahan.

    Like

    Reply

  6. thanks sesepuh ( Broth Kei ) HS info sharingnya, sangat membangun diri untuk tidak masuk kembali ke dalam “stockholm syndrome”
    cukup untuk menjadi korban, tidak untuk membalas kepada pelaku
    “kita pantas untuk mendapatkan yang baik untuk kita! dan saya pribadi senang banyak menemukan kesalahan dalam suatu hubungan yang sudah terlewat”

    Like

    Reply

  7. Aku ngalamin semuanya…….awalnya baik lama lama sangat mengekang, bahkan aku dijauhkan dari keluargaku, kalau aku mau putus selalu ngancam bunuh diri dan aku paling tidak bisa kalau dia udah ngancam seperti itu. Sampai sekarang aku udah menikah dan punya anak 1. Aku dijauhkan dari sahabat sahabat ku dan keluargaku, bahkan telepon ke ortu ku pun aku tidak boleh. Aku selalu menangis dalam hati, menyesal, kenapa dulu aku tidak tegas, kenapa aku selalu kasihan sama dia, sekarang aku yang rugi sendiri.
    Aku sebenarnya sudah tidak kuat dan mau cerai, tapi aku kasihan dengan anakku. Aku hanya bisa bebas kalau di kantor, itu pun selalu dimonitor, di telpon,di ym.
    Semua kupendam dalam hati

    Like

    Reply

    1. kalo menurutaku sih mending ambil keputusan sekarang..emang sih, kesan.a jd tega sama anak.a..tapi sebener.a itu juga menyelamatkan masa depan si anak. Krn KRDT dpt merusak psikologi anak, kan anak (cepat atau lambat) melihat apa yang terjadi di keluarganya. Mungkin sebenarnya si anak tahu tapi diem aja (biasanya krn gak tega sama ibunya, takut kejadiannya tambah parah)

      Like

      Reply

  8. bnr2 tragedi…aq akui dl aq jg bgt…melarang dia terlalu bebas bergaul…krn aq lakukan bgt untuk kebaikanny…sebab apakah pantas seorng cewek keluar tengah mlm masuk diskotik bareng sahabat cowok yg bkn pcrnykah?sdngkan aq yg sbgai pcrny tdk suka ketempat diskotik itu…tp sygny dia tdk pernah mau mendengar nasehat2ku yg sbgai pcrny yg lakukan bgt demi kebaikanny…sampai akhirny mngkin dia bosan lalu memutuskan aq…n akhirny aq sadar mngkin ini lah jln pilihanny n mngkin jg dia tdk serius mencintaiku…

    Like

    Reply

  9. Sy dl pnh jd korban Stockholm Syndrome. Sy dl pacaran slama hampir 2 thn. Setahun pertama pacaran msh oke2 saja. Tahun kedua ia mulai kasar meski tidak secara fisik. Kalo marah ia mulai nonjok2 tembok atau menggebrak meja. Tp entah knp sy tdk bs meninggalkannya. Lalu 3 bulan terakhir pacaran, sy bertemu dgn sahabat lama sy (cowo : 90% tmn sy cowo krn sy tomboy) & kami mulai bertemu & jln2 (sy tdk ada perasaan apa2, hny senang bertemu tmn lama, krn selama hampir 2 thn itu sy tdk pnh bertemu / bergaul dg tmn2 sy).

    Lalu mgkn merasa terancam, Ia lalu mulai lebih sering frekuensinya marah2, & hal yg paling sy takutkan terjadi, ia mulai mencoba bunuh diri lah… Sy rebutan pisau dg dia diloteng, meski kakaknya blg “mmgnya dia berani!” #hadeh bukannya bantuin kek malah provokasi# tetap saja sy merasa takut.

    Dgn bantuan tante sy, Akhirnya sy putuskan, cowo spt itu tdklah worth it utk dijalani.
    Dua minggu setelah kejadian itu, sy minta putus & walhasil membuat sy trauma 6 bln utk menjalani suatu hubungan.

    Entah knp, pdhl sy tdklah cinta, tp sy berusaha sayang dgnnya & sy sdh mempertahankan hubungan dg berkomunikasi dll dlm sebuah hubungan… Namun pd kenyataannya menyakiti.
    Skrg pun kami msh berkomunikasi & tetep ctc, hny saja utk balik lg.. Ogah… Hahahaha…

    Tp entah knp rata2 korban stockholm syndrome, meski dipengakuan bibirnya tdk mau mendapatkan lg pria2 kasar, pada kenyataannya utk selanjutnya mendapatkan kembali hubungan relationship dr pria2 yg demikian.

    Anyone???

    Like

    Reply

  10. sepertinya ini yg kmren aku alamin. tp mantan ak setelah putus malah nerror2 gitu kayak orang gila. termasuk ga yah?

    Like

    Reply

  11. Kalo uda seperti ‘Mely’, bagaimana keluar dari lingkaran setan ini? gw mulai hopeless hadapi ‘dodi’ tapi ada 2 anak yang menjadi ‘tawanan’ nya. Wat shud i do, please???

    Like

    Reply

  12. wow, aku baru kenal nih sama HitmanSystem, coba tau lebih awal mungkin msh langgeng ma yg dulu.

    nanggepin stockholm syndrome, ‘Pecandu narkoba, ngelakuin apa aja buat dapetin ‘kenikmatan’ setelah make narkoba walau dia tau hidupnya bakal sengsara. kalo niat nya gak kuat buat ninggalin dia baru akan sadar pas udah sekarat mau mati mungkin.
    jadi ‘buat ngelepasin mata kail dari seekor ikan, harus ada orang lain yg bantu ngelepasin mata kail dari mulut ikan, dan itu juga emang sakit’

    itu yg aku bilang ma temen ku, tapi percuma dia selalu mencari buat pembenaran untuk pacarnya… semoga temen ku bisa mndapatkan yg terbaik deh,,,

    Like

    Reply

  13. gw emang sangat gak sempurna,tapi gw juga pernah ngerasain pahitnya cinta walaupun beda aksi dan cerita tapi sakitnya sama tak akan terlupakan selamanya,tapi gw udh bisa melewati semua,gw rasa gw udh mendapat pilihan yg terbaik untuk membuka lembaran baru,tapi ingat tak semua akhir masalah harus sama,setiap individi memiliki garis,pilihan,dan cara pandang yang berbeda.
    satu yg menurut gw ini bnr”seseorang yg tulus mencintai tak akan pernah menyakiti pasangannya apalagi menyakut fisik ataupun kekerasan,semua kembali kepada pasangan akankan berlanjut dengan perubahan 360′ atau berdiam dititik 0′ tanpa pergeseran sama sekali apalagi pergerakan”.
    pilihlah:
    -saling merubah keadaan untuk melanjutkan hubungan yg lebih baik
    -berdiam dalam belnggu
    -atau the end to find the better be the best!
    “lo tau apa yang terbaik untuk lo”

    Like

    Reply

  14. sumpah betul kata lo, gue nyadarin temen gue susah banget yang kena case kayak begini. yang ada malah dia jadi penakut, takut untuk memutuskan sesuatu sepeerti minta putus sama pacarnya, parahnya lagi dia membuat alasan2 bahwa memang pacarnya itu yang terbaik buat dia.. berkali2 gue jelasin dia cuma bilang “oh god, gue pusing..” membuat alasan juga bahwa dia juga belum menjadi terbaik bagi cowoknya.. susah banget, ampun DJ!!

    Like

    Reply

  15. hmm…lalu bagaimana dengan wanita seperti ‘mely’ ??
    soalnya ini kan masalah saling membutuhkan…
    saya bingung,,jujur saya bingung harus seperti apa saat menjadi ‘mely’..
    masalahnya,,selain hal buruk tentang ‘Stockholm Syndrome’ itu,,saya ga menemukan apa lagi yang salah…
    saya berharap bisa keluar dari itu,,tapi seperti mely,,saya tau saya butuh dia.

    Like

    Reply

  16. Seneng banget ada yg concern masalah Stockholm Syndrome.. Bro Kei Savourie & Hitmansystem patut dapat apresiasi para pria indonesia..

    Sebenarnya, sebagian besar Stockholm Syndrome Abad 21, lebih dialami oleh kaum pria, dibanding kaum wanita. Jangan tanya “kok bisa”, temukan sendiri kenyataannya.

    Contohnya adalah saya, hahahaha, i’m living with Stockholm Syndrome. Istri saya (ya, istri saya) adalah pelaku yang terbilang cukup mahir memainkan permainan Syndrome mengerikan ini, tanpa dia sadari. Well, saya menyebutnya sebagai “Satanic Gift”. Toh, saya sudah memindset diri untuk menikmati permainan ini.

    Kuncinya adalah di permainan, life is a game, isn’t ? Kita selalu punya pilihan untuk memainkan peranan kita dalam permainan Syndrome yang mengerikan ini. Ini fakta. Kalau kita membiarkan diri menjadi korban, ya kita tetap akan menjadi korban, jika kita mau sedikit menguatkan mental dan memainkan otak kita, maka kedudukan setidaknya tidak terlalu timpang, bahkan bisa berimbang.

    Jika anda sudah terjebak dalam kehidupan Stockholm Syndrome, salah satu cara untuk dapat menjalankan hidup dengan elegan adalah dengan menciptakan Counter Stockholm Syndrome. Terorist vs Counter Terorist. Awalnya mungkin sulit, karena mindset “cinta” anda akan berkata bahwa ini manipulasi, tapi ini masalah pembiasaan saja. Ingat, hidup ini bisa keras dan brutal, get used to it, hahahaha.

    Well, ini berdasarkan pengalaman saya, tapi apa yang bisa saya lakukan, mungkin belum tentu bisa buat Anda-Anda yang juga mengalami.

    Tapi, seperti Anda tahu, mencoba dan berusaha adalah skill mendasar dari permainan Romansa. Give a shot, Brothers!.

    Plus, Anda butuh advisor, sahabat dan pemikir strategis untuk menghadapi peperangan multi juta dollar ini. Setiap tetes darah anda hingga usia tua nanti, dipertaruhkan !

    Jadi, seperti yang sering dikatakan Lex, Kei, Jet, dkk : Materi strategi eksklusif untuk menghadapi Stockholm Syndrom secara elegan ini dapat Anda temukan di “HitmanSystem Counter Stockholm Syndrome Seminar” ..

    Hahahaha..

    Like

    Reply

  17. Aq jg punya teman yang sepertinya mengalami sydrome seperti ini, bahkan udah main fisik..Tp meskipun diperingatkan berkali-kali dia tetap pada pendapatnya bahwa dia menunggu pasangannya berubah jadi baik.
    Tp sampai kapan, krn semakin hari tidak semakin baik, malah semakin terpuruk akibat perasaan dia yg terlalu kuat thdp pasangannya. Menurutku itu adalah hal yg bodoh yg pernah kutemui selama ini diantara teman2ku yg lain.

    Like

    Reply

  18. sayah sedang mengalami hal yg seperti ini…
    makasih ya bang, smoga menjadi inspirasi buat sayah untuk menyelamatkan seorang wanita….
    doakan yahhh…
    thx….

    Like

    Reply

  19. wow,very inspirating,dulu sy sempat mengalami sindrom ini tanpa menyadarinya. Si pelaku berbuat kasar(KDRT) berbicara kasarpada saya tapi saya seakan “terhipnotis” untuk terus bersamanya. saat itu saya merasa tidak ada yang lebih mengerti saya selain dia.dia menjauhkan saya dari teman,keluarga,dan apapun selain dirinya sehingga saya merasa tidak berharga maupun berdaya tanpa dirinya. Nasehat teman,orang tua walau saya tahu isinya benar tidak ada yang bisa membuat saya melepaskan pria tersebut. Saya membuat “pembenaran” atas apa yang terjadi untuk menutup mata saya walau jauh di lubuk hati saya tahu itu salah.Turning pointnya adalah saat kekasaran dan intimidasi pria itu tidak dapat saya tangani lagi,orang tua saya turun tangan dan menjauhkan saya dari pria tsb selamanya. Awalnya saya merasa tak sanggup,tapi seiring waktu berjalan saya bisa move on. Sekarang saya menyadari bersama pria tersebut malah menyiksa saya, saya sungguh bersyukur sekarang bisa menjalani hidup dengan normal.

    Bagaimana menyadarkan teman yang mengalami sindrom ini,saat nasehat apapun hanya masuk telinga kiri dan keluar telinga kanan saja?saya tidak ingin teman saya mengalami apa yang saya alami dahulu,bahkan lebih jauh.

    Like

    Reply

  20. Gue rasa orang-orang seperti itu udah nggak tertolong lagi. Biarin ajalah dia menemukan turning point nya mereka sendiri secara alami, karena emang orang nggak bisa berubah tanpa kemauannya sendiri (kecuali pake metode Inception mungkin :p)

    kalo kata Mario Teguh sih, wanita yang diperlakukan kasar tidak akan meninggalkan prianya karena dia percaya di luar sana semua pria adalah sama, sebaliknya kalo wanita diperlakukan baik malah gampang kabur karena dia pikir semua pria di luar sana sama baiknya..😀

    Gue percaya, life will finds a way..

    Tapi gw sempet kepikiran, untuk kita semua yang berusaha menyelamatkan mereka yang terkena sindrom ini, apa kita bukan pengidap Messiah Complex namanya? hehe

    Like

    Reply

  21. Saya prnh mnjadi korban sindrom ini, ketika saya mnyukai wanita dan mncoba PDKT dan kemudian mengirim sms yg saya anggap biasa2 saja. dan sehari setelah itu pacarnya mnelpon saya, mencaci maki, sampai2 ngajak brantem. yah emang sih saya terbawa emosi jg dngan kata2 dan tuduhan2 yg brlbihan. pada saat itu emang sya gk tau klo dia punya pcar. tpi gppa lah ang9ap aja pngalaman yg mnyedihkan.

    Like

    Reply

  22. Cocok nih buat artikelnya
    Firehouse – Love Is a Dangerous Thing

    You take your chances with modern romances
    Remember everything that you’ve learned
    If you give into desire you’re playing with fire
    And you could be so easily burned

    If you want to be a lover you’d better take cover
    It’s too late to forgive if you forget
    When you roll the dice you’d better think twice
    ‘Cause what you see ain’t always what you get

    Chorus:
    You take the risk right from the start
    ‘Cause love is a dangerous thing
    It’s like a loaded gun pointed straight at your heart
    Love is a dangerous thing

    If your first reaction is for satisfaction
    Don’t forget that you’ve got plenty of time
    Before you give into it you’d better think trough it
    Remember it’s your life on the line

    If you’re lookin’ for a lover you’d better take cover
    It’s too late to forgive if you forget
    When you roll the dice you’d better think twice
    ‘Cause what you see ain’t always what you get

    Chorus

    Like

    Reply

  23. Dear ko…

    Nice info..aq jg punya temen yg mengalami hal yang sama…semoga ce2 bisa sadar bila diperlakukan seperti itu oleh pacarnya…jangan sampai mau diintimidasi…

    Like

    Reply

  24. sekarang sy sedang menjalani hubungan, semakin lama pacaran terkadang sifat posesif itu muncul dari diri saya (semua akses password si doi saya tahu) dengan maksud agar dia tidak selingkuh, ternyata hal itu justru membuat saya menjadi pria lossy.

    Saya baru sadar, bahwa selama ini dia gugup ketika saya menanyakan mengenai cowok yang di smsx or apalah itu karena saya terlalu mengintrogasi dia.

    thax u brother, artikel ini memberikan pencerahan bagi saya untuk kembali menjadi pria glossy

    Like

    Reply

  25. wuihh.. enak juga baca artikel ini pake perasaan.. terkesan ceritanya real..
    mang ga bisa dipungkiri banyak cwo di dunia ini yang punya karakter seperti doni dalam cerita diatas. dengan alasan ingin mempertahankan hubungan dengan cara2 posesif yang akhirnya egonya menghalalkan segala cara seperti phisical abuse and mental abuse yang tanpa disadari mereka justru mendholimi sang wanita dan anehnya cwe yng disholimi itu tidak bisa meninggalkan sang cwo..
    padahal ada pria baik diluar sana yng memberikan pelayanan dan perhatian yang lembut dan ramah ke wanitanya justru berakhir dengan pemutusan hubungan secara sepihak dengan alasan boring atas monotannya emosi yang wanita rasakan dalam interaksi dengan cwonya
    damn dunia memang udah terbalik..
    yg pasti segala sesuatunya membawa nilai pelajaran..
    pertanyaannya untuk bro kay, nilai apakah dari topik ini yang bisa dipegang oleh pria untuk membuat wanitanya ga bisa melepas sang pria? thx in advance for answering..

    Like

    Reply

  26. waktu gue dibandung sempet sedikit ngebahas soal ginian nih sama green, diesel and white, tapi kalo gue pikir2,emang banyak juga sih yang cewek2 disekitar kita yang ngalamin ginian tapi sayangnya mereka gak sadar….
    hahahahha…
    nice artikel master…

    Like

    Reply

  27. Hmm.. Stockholm Syndrome yah.. saya pernah bertemu dengan salah satu Korbannya..

    Ketika Saya mulai Merasa, Dia adalah kriteria saya. saya mencoba untuk menyelamatkannya. tapi yang saya dapat adalah sebuah “sabotase” yang akhirnya membuat saya harus meninggalkannya.. karena saya sadar, saya tidak punya super power untuk menyelamatkan hidupnya..:)

    Sampai sekarang pun saya berkata pada diri saya “she will be loved” meskipun bukan saya yang melakukannya,,:)

    Like

    Reply

  28. artikel yg bagus bro, bila anda terlahir di tengah kel seperti itu apa yg anda lakukan untuk memperbaiki kualitas diri anda yang selama ini terdoktrin oleh siklus yang mengerikan ini sobat, apa nasehat anda buat saya.

    trims.

    Like

    Reply

  29. Very interesting article, para pria/wanita yg sedang cari pacar/sedang menjalin hubungan WAJIB baca ini. Jangan biarkan Stockholm Syndrome merusak hidup anda, keluarga anda, atau teman anda !

    Like

    Reply

  30. Very possesif..manusia adalah makhluk sosial,jadi kita bebas bersosialiasi dengan siapapun,kapanpun,dimanapun yang kita mau tanpa ada yang bisa melarangnya….kecuali hanya masukan atau nasihat

    Like

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s